46 total views,  2 views today

Menyapih ASI, bagaimana menyiasatinya?

Proses menyapih air susu ibu (ASI) adalah proses menghentikan pemberian ASI bagi anak oleh ibu. Kondisi ini dapat dilakukan pada usia anak yang berbeda dilihat dari berbagai hal yang mendasari. Ajaran agama Islam maupun agama lain menyarankan pemberian ASI pada bayi sejak lahir dengan kisaran lama pemberian yang tak jauh berbeda (1-2 tahun). Badan kesehatan dunia (WHO) maupun The American Academy of Pediatrics (AAP) juga merekomendasikan ibu menyusui bayinya secara eksklusif pada 6 bulan pertama, yang kemudian harus diikuti dengan pemberian makanan padat sebagai tambahan.

Menyapih tak jarang menjadi hal yang cukup mengganggu para ibu menyusui. Proses ini membutuhkan persiapan dan kemantapan sebelum memulainya agar dapat berjalan dengan lancar dan menyenangkan, bukan hanya untuk ibu, tapi juga anak. Hambatan/ketidak nyamanan dalam proses ini pada beberapa kasus, dapat menyebabkan asupan yang berkurang disamping gangguan psikologis bagi ibu maupun anak. Tentunya keputusan akan hal ini perlu dievaluasi kembali kemanfaatannya bagi perjalanan proses tumbuh kembang anak yang baik dan menyenangkan.

 

Berikut beberapa hal yang bisa dipersiapkan saat menyapih ASI pada anak. Meskipun perlu penyesuaian sesuai kondisi masing-masing, namun kiranya bisa menjadi masukan dan dukungan bagi ibu untuk menciptakan proses penyapihan yang menyenangkan:

  1. Niat untuk menyapih sebaiknya dimantapkan terlebih dahulu. Saat menjalani, ibu dapat mengalami perubahan perasaan dikaitkan dengan kesiapan psikis dan hormonal. Perasaan sedih, mudah menangis, bahkan depresi dapat terjadi. Menyadari hal ini, maka adanya alasan dibalik penyapihan, melakukan penyapihan bertahap, berkomunikasi dengan ibu lain, mengganti waktu kebersamaan dengan anak bisa menjadi jalan solusinya.
  2. Persiapkan alternatif  pengganti ASI. Apabila anak di bawah usia 1 tahun pilihan adalah susu formula  yang sesuai. Apabila anak di atas usia 1 tahun, alternatif susu formula, susu sapi, atau susu UHT dapat mulai diberikan.
  3. Pada anak memasuki usia ‘toddler’ (1-3 tahun), pemberian penjelasan mengenai proses penyapihan perlu disampaikan. Mereka sering dapat memahami lebih baik dengan penjelasan secara bertahap.
  4. Menyadari bahwa proses ini membutuhkan kesabaran dan keikhlasan ibu serta dukungan suami dan  anggota keluarga lain di rumah.

Saat menjalani proses penyapihan, sesuaikan kondisi yang ibu alami dengan kebutuhan anak. Beberapa persiapan teknis  berikut bisa dicoba dilakukan:

  1. Mulai berikan bayi/anak susu formula sebelum rutinitas menyusui, dengan harapan anak sudah kenyang sebelum pemberian ASI dan kebutuhan akan ASI berkurang sedikit demi sedikit. Pemberian dapat menggunakan botol atau gelas disesuaikan dengan usia anak.
  2. Biarkan anak menyusui hanya pada satu payudara, setelah memastikan kecukupan asupan cairan dari  susu formula/ susu pengganti lain sebelumnya.
  3. Kurangi waktu pemberian ASI bertahap setiap hari, setiap minggu, mengikuti kenyamanan dan kondisi anak saat  menjalaninya.
  4. Pastikan masih tetap ada waktu cukup untuk bermain dan berinteraksi erat dengan anak.
  5. Apabila payudara terasa penuh, ibu bisa memerah ASI dengan tangan ataupun pompa hingga terasa lebih nyaman.  Tidak perlu mengeluarkan ASI sampai payudara kosong, agar tidak memicu produksi ASI kembali.
  6. Penggunaan  media/kegiatan bersama dapat membantu mengalihkan perhatian anak selama proses menyapih.  Bermain, bercerita, membaca buku, memainkan permainan khusus bersama antara orang tua dan anak sebelum waktu menyusui dapat membantu proses penyapihan.
  7. Pada anak yang lebih besar (toddler) beberapa tips berikut bisa dicoba.
    • Apabila menyusui dilakukan sebagai pengantar tidur mungkin membutuhkan upaya lebih lama, namun secara  bertahap memberikan penjelasan, seperti “sudah saatnya tidur nak, menyusunya berhenti dulu ya”, kemudian berdoa, membaca buku, bernyanyi, menepuk2/mengelus punggungnya sebagai pengalihan mungkin bisa membantu.
    • Saat keluar rumah, ibu sebaiknya menggunakan baju yang tidak memudahkan dalam memberikan ASI.
    • Upaya lain dapat berupa meminta bantuan keluarga/pengasuh/kawan menjaga si kecil untuk  sementara, semisal saat waktu menyusui siang hari sehingga mengurangi frekuensi bertahap dan merubah rutinitas.

Bagaimanapun menyapih adalah keputusan dari ibu dan keluarga sesuai dengan kondisi masing-masing. Usia berapapun yang diputuskan untuk menyapih pemberian ASI pada anak, apabila dipersiapkan dengan baik, dapat menguatkan ibu, anak dan keluarga dalam menjalaninya. Seorang anak yang sudah cukup lama kontak erat menyusui  dengan ibu, pastinya akan merasakan perubahan saat penyapihan, yang merupakan bagian dari proses pembelajaran kemandirian. Keyakinan ibu akan keputusan yang diambil akan membuat proses pikir logis dapat lebih mendominasi perasaan sedih/ketidaktegaan dalam proses penyapihan. Hal ini bukan hanya lebih meringankan ibu, tapi juga membuat angka keberhasilan penyapihan yang nyaman bagi anak menjadi semakin besar.

Tetap semangat ibu!

 

 

Sumber: