10 total views,  2 views today

OKSIGEN

Dr. Prita Kusumaningsih

 

“Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh manusia adalah kesehatan dan waktu luang” (HR Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Sudah menjadi sifat manusiawi, bahwa sesuatu yang berjalan secara rutin dalam keseharian cenderung diabaikan. Badan sehat, bugar, dan bebas nyeri menjadi hal yang sangat disyukuri dan didambakan tatkala kita dalam kondisi sakit.  Bisa mengunyah makanan dengan nikmat, sangat didambakan oleh mereka yang sedang sariawan dan sakit gigi.  Bahkan kemampuan mencium bau-bauan dan aroma sangat dirindukan oleh para penderita covid19 yang mengalami anosmia (kehilangan indra pencium) .

Betapa berharganya udara yang kita hirup baru kita sadari  tatkala mengalami kesulitan bernapas.  Hampir-hampir kita tak pernah memikirkan soal bernafas karena menganggap hal itu adalah proses rutin dan otomatis.  Tatkala bangun di subuh hari kemudian menghirup udara segar, di saat itu paru-paru kita mengembang dan alveoli (gelembung udara) terisi penuh dengan oksigen. Pernahkah terpikir oleh kita berapa banyak udara segar megandung oksigen yang masuk ke dalam paru-paru?  Manusia sehat bernafas 16-18 kali per menit membutuhkan 3 liter oksigen setiap menitnya.  Sehingga dalam sehari semalam dibutuhkan 4500 liter oksigen.   

Organ-organ vital di dalam tubuh kita tidak bisa bekerja dengan baik tanpa oksigen. Mereka merupakan organ dengan tingkat ketergantungan oksigen yang tinggi.  Tanpa oksigen yang memadai, akan terjadi keadaan yang dinamakan hipoksia.  Hipoksia akan membuat kerusakan dan kematian jaringan. Dari seluruh organ vital, otak adalah yang paling sensitif.  Dampak hipoksia otak akan membuat manusia kurang koordinasi, bicara ngelantur tidak nyambung.  Karena itu, otak mendapatkan prioritas tatkala terjadi defisit oksigen.  Dalam keadaan istirahat, otak membutuhkan aliran oksigen sebanyak 50 cc per menit untuk mempertahankan fungsinya. Sebetulnya otot membutuhkan oksigen lebih banyak dari otak – sehubungan dengan fungsi utamanya untuk menunjang pergerakan tubuh –  namun karena otak lebih vital, maka otot akan “mengalah”.  Itulah disain Allah subhanahu wa ta’ala untuk melindungi organ vital di dalam tubuh.

Para penderita covid19 dengan gejala sedang dan berat sangat tergantung dengan oksigen.  Hal ini karena paru sebagai penerima oksigen menjadi organ target serangan virus Corona.  Paru yang diserang virus mengalami keradangan berat, membuat kemampuannya untuk menyerap oksigen menurun drastis.  Paru yang seharusnya seperti spons, berubah mengeras dan memadat.  Efeknya, napas menjadi berat ibarat orang tenggelam.  Kondisi ini mengakibatkan turunnya kadar oksigen di seluruh tubuh.  Hal itu digambarkan secara kasar dengan angka saturasi oksigen yang bisa dipantau dari alat bernama oksimeter.  Normalnya adalah 95-99%.  Bantuan oksigen untuk pasien covid bisa melalui selang biasa (selang hidung), namun bila kebutuhannya melebihi 5 liter per menit maka digunakan masker.  Bila kebutuhannya melebihi 10 liter per menit, digunakan masker dengan kantong reservoir, bahkan pada pasien kritis perlu diberi pasokan oksigen dengan tekanan tinggi atau yang paling maksimal dengan bantuan alat ventilator.

Pernahkah kita mengalkulasi bila oksigen yang kita hirup itu dirupiahkan? Di rumah sakit, pemakaian oksigen dihitung per liter per jam.  Ada tarifnya.  Namun oksigen Allah bisa kita peroleh dengan gratis dan tak terbatas.  Pandemi mengajarkan kita untuk mensyukuri karunia Allah yang selama ini kita anggap biasa. Wallahua’lam  [nin]

 https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9066318/#:~:text=Results%3A%20The%20human%20lung%20consumes,temperature%20of%2028%20degrees%20C.

 

https://erwantoindonesia.wordpress.com/2012/06/29/udara-perspektif-al-quran/

 

https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/sumber-penyediaan-dan-pendistribusian-oksigen-untuk-fasilitas-perawatan-covid-19.pdf?sfvrsn=1085bbdc_2